Kamis, 20 Februari 2014

rahasia hati

YENI FERI ANDRIAWAN,,,
sosok yang aku kagumi sejak aku masih SMA klas 2 sampai sekarang ak sudah berstatus mahasiswa semester 4,,, ga terasa sdah 4 tahun ak kagum sama dia,,, dan aku blum tau rasa kagum ini sampai kapan akan terus bertahan.

aku juga tidak tau, bagaimana rasa kagum ini bisa ada di diriku. berawal dari seringnya bertemu walau hanya sekedar lewat di depan rumahnya,, tp ternyata hal sekecil itu bisa berubah jadi indah.

dia memang tidak tampan,, bahkan menurutku dia sangat biasa,,, kulit ga putih, dan juga ga terlalau tinggi. kalau kataku sih dia mrirp sama pemain bulutangkis Hayoum Rumbaka,,,,hahahhah...
namun yang aku tau dia sangat sayang sama orang tuanya. mau mengantar ibunya ke pasar, bersih2 rumah, bahkan dia mau ternak kambing, mulai dari kasih makan sampai membersihkan kandangnya.

dulu,, kalau lagi bulan ramadhan, ,kebiasaan dari masyarakat di sekitar desaku selalu jalan2 pagi sehabis subuh.. d situ aku senang,, karena biasanya mr.Y jalan2 dan lewat depan rumahku,,, seneg banget rasanya bisa ngelihat dia walaupun hanya sebentr...

namun,,, sudah sekitar 2 tahun ini aku jarang sekali bisa ketemu dia,, karena selain aku hrus kuliah d surabaya, mungkin juga karena dia sibuk dengan karirnya.
setelah aku cari2 informasi tentang dia,, trnyata dia sudh mengajar di salah satu sma negeri d daerahku,, sebagai pembimbing pelajaran PKN..
dan kabar yang sangat mengharukan lagi adalah ternyata dia sudah menikah dengan tetngganya sahabat dekatku,,,,

huhuuhuhuuh,,,,,,, hancur rasanya hati ini,,,,,,
eaaa,,,,,, semoga saja aku bsa mndapatkan org yng sprti dia atau bhkan lebih,,,, amiinnnn,,,,,

Selasa, 04 Februari 2014

kuLiT PiSang,,, sAmpAh bErmaNfaAt

Ajaibnya Kulit Pisang, Sampah Menyebalkan Obat Kutil Alami

 Kulit pisang sering membuat orang jatuh terpeleset saat menginjaknya, sehingga dianggap sebagai sampah yang paling menyebalkan. Padahal sebenarnya kulit pisang punya beragam manfaat, mulai dari mengobati kutil hingga mengkilapkan sepatu.
Salah satu manfaatnya seperti yang pernah ditulis detikHealth adalah memurnikan air. Menurut sebuah penelitian di jurnal Industrial & Engineering Chemistry Research, kulit pisang bisa menyaring logam berat terutama timbal (Pb) dan tembaga (Cu).

Dalam penelitian tersebut, kulit pisang yang digunakan tidak dimodifikasi melainkan hanya dicincang kecil-kecil lalu dimasukkan ke dalam air yang tercemar. Cincangan kulit pisang bisa digunakan hingga 11 kali tanpa kehilangan kemampuannya untuk menyerap logam berat.

 Sementara itu diberitakan dari Re-nest.com, Minggu (2606/2011), masih banyak manfaat lain dari kulit pisang selain untuk memurnikan air. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Meredakan nyeri
Minyak nabati yang terkandung dalam kulit pisang punya senyawa tertentu yang berkhasiat sebagai pereda nyeri. Tempelkan kulit pisang yang bersih dan masih segar untuk mengurangi rasa nyeri pada luka bakar atau tergores.

2. Mengatasi gatal
Gatal-gatal akibat gigitan serangga atau alergi ringan bisa diatasi dengan kulit pisang. Caranya cukup dengan menempelkannya di permukaan kulit yang terasa gatal.

3. Mengobati kutil
Kulit pisang diyakini punya aktivitas antivirus, sehingga banyak yang menggunakannya untuk mengusir kutil dari permukaan kulit. Caranya dengan menempelkan kulit pisang, lalu ditahan dengan plester dan dibiarkan hingga sembuh dengan sendirinya. Mungkin juga dengan menggosok-gosokkan ke bagian tubuh yang tidak sakit bisa menghindarkan anda dari penyakit kulit sebangsa kutil dan kawan-kawan.

4. Mempercepat kesembuhan luka
Luka yang sudah mulai kering terasa gatal karena tertutup serpihan kulit mati yang mengeras. Serpihan itu bisa dihilangkan lebih cepat hanya dengan mengoleskan kulit pisang, karena akan bereaksi dengan enzim yang terkandung di dalamnya.

5. Menyuburkan tanah
Tidak hanya untuk campuran kompos, kulit pisang bisa langsung ditimbun begitu saja ke dalam tanah untuk menyuburkan tanaman di sekitarnya. Kulit pisang memiliki kandungan potassium yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman.

6. Mengkilapkan tanaman hias
Berbagai tanaman hias semacam anthurium, gelombang cinta dan sejenisnya akan lebih menarik jika daunnya tampak hijau mengkilap. Gunakan sisi dalam kulit pisang yang teksturnya lunak untuk memolesnya, maka dedaunan itu akan mengkilap dan lebih tahan lama.

7. Mengkilapkan sepatu
Tidak perlu panik jika suatu saat kehabisan semir sepatu, asalkan ada pisang di lemari es. Kupas buahnya, lalu gunakan kulitnya untuk memoles sepatu kulit agar tampak mengkilap seperti habis disemir.
Semoga berhasil

http://pertanianjanabadra.webs.com/tanamanobat.htm

Sabtu, 23 November 2013

PuRifikAsi BaktEri

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Kita telah mendapatkan koloni bakteri dari praktikum isolasi dan enumerasi. Koloni bakteri yang didapatkan tersebut sifatnya masih beragam, artinya terdiri dari bermacam-macam jenis mikroba. Untuk mendapakan biakan murni, kita tidak bias serta merta langsung menggoreskan kawat ose pada media lalu menamnya pada tabung reaksi, namun  terlebih dahulu harus dilakukan purifikasi (pemurnian). Purifikasi adalah teknik untuk mendapatkan koloni tunggal yang berisi biakan murni.
Purifikasi dilakukan setelah kita melakukan isolasi bakteri. Koloni yang tumbuh pada cawan isolasi diambil menggunakan jarum ose kemudian menanamkannya pada cawan petri baru yang telah diisi dengan media agar (kondisi media agar di cawan petri baru sudah dingin atau padat) dengan teknik cawan gores secara kuadran.
Dengan melakukan teknik cawan gores secara kuadaran, maka akan didapat koloni tunggal yang berisi biakan murni pada kuadran keempat, sehingga memudahkan untuk mengidentifikasi bakteri tersebut. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai prosedur purifikasi bakteri, maka kami melakukan praktikum pemurnian bakteri guna mendapatkan biakan murni.

1.2 RUMUSAN MASALAH
a.      Bagaimana prosedur umum melakukan purifikasi bakteri?
b.     Apa yang dapat diidentifikasi dari penampakan koloni bakteri yang yang telah dipurifikasi?

1.3TUJUAN
a.      Mendeskripsikan prosedur umum purifikasi bakteri
b.     Mengidentifikasikan karakteristik koloni bakteri yang terbentuk setelah purifikasi

1.4        MANFAAT
Praktikum mengenai pemurnian mikroorganisme ini kami lakukan dengan harapan akan mendapatkan manfaat, baik secara teoritis maupun secara praktis.

1
 
Secara teoritis, manfaat yang dapat diambil dari kegiatan praktikum ini adalah bisa menambah wawasan dan pengetahuan tentang bagaimana prosedur cara memurnikan bakteri sehingga benar-benar didapatkan koloni tunggal atau biakan murni dan dapat mengetahui karakteristik morfologi koloni tunggal. Secara praktis, setelah mengetahui prosedur dan cara isolasi, enumerasi, dan pemurniaan mikroorganisme ini dengan benar, dapat diaplikasikan dalam praktikum mikrobiologi.


BAB II
KAJIAN TEORI

Karakteristik mikroorganisme dapat dipelajari dengan baik jika kita memiliki biakan murni (kultur murni). Biakan murni merupakan suatu kultur yang terdiri dari satu macam mikroorganisme. Untuk memperoleh kultur murni, kita harus dapat menumbuhkan mikroorganisme di laboratorium. Untuk kebutuhan tersebut, harus tersedia nutrisi dan keadaan lingkungan yang mendukung pertumbuhannya. Hal ini juga enting untyk mencegah masuknya organism lain yang masuk ke dalam kultur, seperti halnya organisme yang tidak diinginkan yang disebut dengan kontaminan, yang terdapat di mana-mana (alam bebas). Teknik mikrobiologi yang tepat diperlukan untuk menghindari kontaminan. Sekali  kultur murni diperoleh, selanjutnya kita dapat menggunakannya untuk meneliti sifat biokimia, fisiologi, genetika, dan karakteristiknya.
Medium agar merupakan substrat yang baik untuk memisahkan campuran mikroba sehingga masing-masing jenis dapat terpisah. Teknik yang sering digunakan untuk menumbuhkan mikroba pada medium agar diharapkan mikroba tersebut dapat dapat tumbuh agak berjauhan dari sesamanya, juga setiap selnya berhimpun membentuk koloni. Koloni merupakan sekelompok masa sel yang dapat dilihat dengan mata langsung. Semua sel dalam koloni itu sama, dianggap semua sel itu merupakan keturunan satu mikroorgansme dan karena itu mewakili sebagai biakan murni.
Isolasi adalah cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan dari satu sel tunggal. Kultur murni atau biakan murni sangat berguna didalam mikrobiologi, yaitu untuk menelaah dan mengidentifikasi mikroorganisme, termasuk penelaahan ciri-ciri kultural, morfologis, fisiologis, maupun serologis, memerlukan suatu popolasi yang terdiri dari satu macam mikroorganisme saja. Untuk beberapa bakteri yang yang ada dan tersebar dimana sangat membantu dalam hal biokimia dan biofisika lingkungan.

3
 
Sel–sel bakteri mempunyai muatan yang agak negatif bila pH lingkungannya mendekati netral. Muatan negatif dari sel bakteri akan bergabung dengan muatan positif dari ion zat warna misalnya methylen blue, sehingga selnya akan berwarna. Perbedaan muatan inilah yang menyebabkan adanya ikatan atau gabungan antara zat warna dan sel bakteri. Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengisolasi bakteri, fungi, dan khamir dengan menggunakan metode gores, metode tuang, metode sebar, metode pengenceran serta micromanipulator. Dua diantaranya yang paling sering digunakan adalah tekhnik cawan tuang dan cawan gores. Kedua metode ini didasarkan pada prinsip yang sama yaitu mengencerkan organisme sedmikian rupa sehingga individu spesies individu spesies dapat dipisahkan dari lainnya.
Terdapat beberapa cara untuk mencegah masuknya mikroorgnisme yang tidak diinginkan dan untuk menanam suatu spesies, yaitu:
1.       Penanaman dengan penggoresan
Merupakan cara rutin yang dipakai untuk mengasingkan mikroba agar didapatkan biakan murni.
2.      Penanaman lapangan
Merupakan cara yang dilakukan dengan cara membasahi seluruh permukaan lempeng agar dengan suspense mikroba.
Cara yang dpat dilakukan untuk mendapatkan biakan murni terdapat beberapa, yaitu:
1.       Pengenceran
2.      Penuangan
3.     Penggesekan
4.    Single cell isolation
5.     Inokulasi hewan
Penggunaan media tidak hanya digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba, tetapi juga digunakan untuk tujuan-tujuan lain seperti isolasi, seleksi, evaluasi, dan deferensiasi biakan yang didapatkan. Penggunaan beberapa jenis zat tertentu yang mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba, sehingga tiap-tiap media mempunyai sifat atau spesifikasi tersendiri.
Bakteri merupakan salah satu contoh mikroorganisme yang penting dan memiliki bentuk beragam. Pada umunya, bateri berhubungan langsung dengan makanan. Adanya bakteri dalam bahan makanan dapat mengakibatkan pembusukan yang tidak diinginkan atau meninbulkan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau dapat melangsungkan fermentasi yang  menguntungkan. Sehingga dilakukanlah serangkaian pengenceran terhadap zat tersebut untuk mengisolasi bakteri dari tanah atau benda padat yang mudah tersuspensi atau terlarut atau zat cair. Misalnya saja, suatu sampel dari suatu suspense yang berupa campuran diencerkan dalam suatu tabung tersendiri secara berkelanjutan dari suatu tabung ke tabung lain. Pertumbuhan bakteri pada media agar pada umumnya berbentuk koloni berupa lendir dan mengkilap. Pemurnian dengan suhu inkubasi 30°C selama 2 x 24 jam.





BAB III
METODE PENELITIAN

3.1WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN
Praktikum purifikasi ini dilaksanakan pada tangggal 11 Oktoberm2013 pukul 13.30 WIB di Laboratorium Mikrobiologi Dasar lantai 2 gedung C9 Universitas Negeri Surabaya.

3.2        ALAT DAN BAHAN
Dalam praktikum purifikasi, alat dan bahan yang diperlukan adalah:
Cawan petri kosong (steril)                                                                           5 buah
Tabung reaksi berisi taoge agar (@ 5 ml)                                                   10 buah
Erlenmeyer 250 ml                                                                                           1 buah
Botol spray berisi alcohol                                                                                           1 buah
Pembakar spiritus dan spiritus                                                                                  1 buah
Jarum ose                                                                                                           5 buah

3.3       METODE
Metode yang digunakan dalam praktikum isolasi dan enumerasi adalah metode eksperimen. Metode eksperimen menurut Djamarah (2002) adalah cara penyajian pelajaran dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami sendiri sesuatu yang dipelajari. Dalam praktikum purifikasi, kami melakukan percobaan dengan urutan langakah sebagai berikut:
a.      Menandai koloni yang telah dimurnikan.
b.     Secara aspetis, koloni diambil menggunakan jarum ose kemudian menggoreskannya pada cawan petri baru dengan metode teknik cawan gores secara kuadran.
c.      Menginkubasi pada suhu 28-30oC selama 24 jam dengan posisi cawan terbalik.
d.     Mengamati hasil dari teknik cawan gores yang telah dilakukan, lalu menentukan apakah terdapat satu koloni yang terpisah (koloni tunggal biasanya terbentuk pada kuadran keempat). Koloni tersebut adalah koloni yang telah murni dan dapat disebut sebagai biakan murni.
e.     Mengambil koloni tersebut dan menanam pada media agar yang baru di tabung reaksi (media agar miring)
f.       Menginkubasi biakan tersebut pada suhu 28-30oC selama 24 jam, kemudian mengamati koloni yang tumbuh.
g.     JIka koloni yang tumbuh sudah murni, disimpan dalam kulkas.

5
 
 


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

            Untuk pemurnian mikroorganisme yang dikehendaki diperlukan media, lingkungan kerja, serta cara kerja yang steril atau aseptis. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kontaminasi. Dalam praktikum pemurnian atau purifikasi ini membutuhkan alat-alat yang meliputi meja kerja, jarum ose, lampu bunsen, alkohol 70%, dan tisu. Alat-alat yang dibutuhkan adalah cawan petri yang berisi mikroorganisme yang akan dimurnikan, cawan petri baru yang berisi media agar padat 1 buah, serta tabung reaksi yang berisi media agar miring 1 buah.
Prosedur umum dalam penanaman sampel mikroorganisme ini diawali dengan memanaskan media agar padat sampai cair kembali, kemudian agar yang sudah cair dituang ke dalam cawan petri yang telah disterilkan, dengan ketinggian sekitar 0,5 cm pada cawan petri. Perilaku ini harus dilakukan secara aseptis. Media agar yang sudah dituang ditunggu sampai memadat. Selanjutnya menandai koloni yang akan dimurnikan. Dalam memilih koloni yang akan dimurnikan diusahakan untuk mengambil jenis yang tidak sama antar anggota kelompok.
            Setelah media pada cawan petri memadat, proses purifikasi sudah bisa dimulai. Secara aseptis, koloni yang akan dimurnikan diambil dengan jarum ose, kemudian digoreskan pada cawan petri yang baru. Untuk memudahkan dalam proses penggoresan, lebih baik dibuat suatu garis bantu yang membagi cawan petri menjadi empat kuadran. Selanjutnya, cawan petri yang sudah berisi goresan diinkubasi pada suhu 28-300C selama 24 jam dengan posisi cawan petri yang terbalik.

Cawan
Koloni Tunggal
1
Kuadran 4
2
Tumbuh koloni tetapi koloninya bergabung-gabung
3
Kuadran 4
4
Tidak tumbuh koloni
5
Kuadran 4
Tabel 4.1. Hasil Streak Plate Method


6
 
            Setelah 24 jam, hasil dari cawan gores yang kita lakukan diamati dan ditentukan satu koloni tunggal yang terbentuk (biasanya di kuadran empat). Koloni tunggal tersebut selanjutnya diambil dengan jarum ose dan ditanam pada tabung reaksi yang berisi agar miring. Penanamannya juga menggunakan teknik goresan (Streak Plate). Dalam penggoresan, diusahakan agar jarum ose tidak menyentuh kaca tabung reaksi, dan goresan dilakukan dari ujung media sampai pangkal media secara zig-zag, serta pelaksanaannya harus tetap secara aseptis. Setelah penggoresan, tabung reaksi tersebut diinkubasi dengan suhu 28-300C selama 24 jam. Kemudian diamati koloni yang tumbuh, jika koloni sudah murni, koloni disimpan di dalam kulkas.
                                        
Gambar 4.1. Hasil Streak pada media miring

Bakteri  yang tumbuh pada media agar miring yang kedua memiliki ciri morfologi yang sama dengan bakteri yang ditemukan pada cawan Petri, misalnya karakteristik optik yang opaque, bentuk yang irregular dan berlendir. Metode yang dilakukan adalah streak.
 Penampakan koloni bakteri dalam media agar menunjukkan bentuk dan ukuran koloni yang khas, dapat dilihat dari bentuk keseluruhan koloni, tepi, dan permukaan koloni. Koloni bakteri dapat berbentuk bulat, tak beraturan dengan permukaan cembung, cekung, atau datar, serta tepi koloni yang rata atau bergelombang. Pada medium agar miring, penampakan koloni bakteri terlihat seperti benang(filamen) yang menyebar, seperti akar, dan lain-lain.
            Dari hasil tersebut, koloni bakteri yang tumbuh di duplikasi pada tabung reaksi yang berisi media agar miring. Metode yang digunakan sama dengan saat penumbuhan pada agar miring yang pertama. Langkah pertama mensterilkan jarum ose yang akan digunakan untuk megambil koloni bakteri  dengan membakarnya di atas bunsen.

                                       
     Gambar 4.2. Pemanasan jarum ose

Setelah jarum ose dipanaskan, koloni bakteri yang tumbuh di media streak sebelumnya diambil dengan menggunakan  jarum  tersebut. Hal yang perlu diingat bahwa semuanya harus aseptis. Selanjutnya, koloni bakteri digesek-gesekkan secara zig-zag pada tabung reaksi yang berisi agar miring baru. Setelah penggoresan, tabung reaksi tersebut diinkubasi dengan suhu 28-300C selama 24 jam. Kemudian diamati koloni yang tumbuh, jika koloni sudah murni, koloni disimpan di dalam kulkas.
                                    
Gambar 5.3. Penggoresan pada agar miring

Secara teori hasil biakan murni pada cawan petri terletak pada kuadran IV, namun hasil yang diperoleh bervariasi antara kuadran III dan IV. Faktor penyebab bervariasinya hasil yang diperoleh antara lain perbedaan dalam mengambil koloni yang akan ditanam pada cawan petri baru, perbedaan dalam mengaplikasikan teknik gores pada masing-masing individu, media atau jarum ose yang digunakan terlalu panas, dan lain-lain.
Secara teori hasil penanaman biakan murni pada media agar miring dalam tabung reaksi membentuk pola zig-zag, namun hasil yang diperoleh bervariasi. Faktor penyebab berbedanya hasil yang diperoleh antara lain jarum ose yang digunakan terlalu panas, jarum ose menyentuh dinding tabung saat melakukan streak, dan lain-lain.
  


































BAB V
PENUTUP

5.1KESIMPULAN
          Praktikum purifikasi kali ini praktikan menggunakan koloni bakteri pada sampel teh basi. Dalam purifakasi bakteri pada teh basi ini diperlukan suatu prosedur untuk melakukannya. Hal yang wajib dilakukan pada praktikum ini adalah tetap menjalankan teknik aseptis, dan bekerja di dekat bunsen agar meminimalisir kontaminasi.  Metode purifikasi yaitu yang pertama menandai koloni bakteri pada sampel air teh yang akan dimurnikan. Selanjutnya, koloni tersebut diambil dengan menggunakan jarum ose dan digoreskan dengan metode cawan gores secara kuadran pada media cawan petri baru.Media tersebut diinkubasi pada suhu 28-30oC selama 24 jam dengan posisi cawan terbalik. Setelah 24 jam akan didapati koloni bakteri. Hasil media yang telah diinkubasi diamati dan ditentukan apakah terdapat koloni yang terpisah atau biakan murni. Jika sudah, koloni tersebut diambil dengan jarum ose dan ditanam pada media agar yang baru pada tabung reaksi (media agar miring). Biakan tersebut diinkubasi pada suhu 28-30oC selama 48 jam kemudian koloni yang tumbuh diamati.Koloni yang telah tumbuh murni, disimpan di dalam lemari pendingin. Identifikasi dari penampakan koloni bakteri yang telah di purifikasi adalah bentuknya yang sama dengan koloni yang ditandai pada cawan petri sebelum di biakan secara murni.

5.2 SARAN
          Saat melakukan praktikum purifikasi, praktikan harus menguasai prosedur pemurnian mikroorganisme yang benar, cekatan, teliti dan selalu menerapkan teknik aseptis pada alat, bahan, tempat praktikum maupun diri praktikan baik sebelum, selama atau sesudah kegiatan praktikum untuk mencegah terjadinya kontaminasi. Bekerja di dekat bunsen agar meminimalisir terjadinya kontaminasi.. Pada saat penggoresan bakteri pada media agar, baik pada cawan maupun tabung reaksi diusahakan hati-hati agar medianya tidak tercuil oleh jarum osenya. Pengambilan bakteri pun juga tidak usah menekan ose terlalu keras, cukup menempelkan ujung ose ke bakterinya saja.







10
 
 



DAFTAR PUSTAKA

Aneja KR, Jain Pranay, dan Aneja Raman. 2008. A Text Book of Basic and Apllied Microbiology. New York: New York Age International.

Kusnadi, Peristiwati, dan Ammi. 2003. Common Textbook (Edisi Revisi) Mikrobiologi. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia

Michigan. 1948. Difco Manual of Dehydrated Culture Media and Reagents for Microbiological and Clinical Laboratory Procedures. USA: Difco Laboratories.

Waluyo Iud. 2007. Mikrobiologi Umun. Malang: UMM Press.